Skip to content


 

Membaca Peluang Politik

Oleh Sukardi Rinakit

Dimuat dari Kompas, Rabu, 25 Februari 2004

SELAIN karena manuver teman-temannya dari Partai Golkar dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, bebasnya Akbar Tandjung, diyakini banyak pihak, juga ditentukan adanya intervensi kekuasaan. Realitas demikian mendorong pengamat umumnya menarik kesimpulan, pemilu untuk memilih pasangan capres-calon wapres sebenarnya sudah selesai.

Tandjung diyakini akan mendampingi Megawati Soekarnoputri setelah dia muncul sebagai pemenang dalam Konvensi Partai Golkar nanti. Koalisi PDI-P dan Partai Golkar dipastikan akan menggilas partai politik lain yang coba ingin merebut kursi kepresidenan.

Meski kesimpulan yang ditarik secara linear itu hampir bisa dipastikan akan menjadi kenyataan, peluang terjadinya penyimpangan dinamika politik nasional sebenarnya masih terbuka. Simpul-simpul sejarah politik masih mungkin berjalan secara nonlinier. Hal ini bisa ditelusuri dari beberapa indikator, seperti kepercayaan diri berlebih dari Megawati, hasil pemilu legislatif Golkar, manuver Amien Rais, dan faktor Tutut-Wiranto.

Faktor pembuka

Pernyataan Megawati yang mengatakan, pembicaraan tentang koalisi sebenarnya tidak relevan karena sistem pemilihan presiden dan wakil presiden adalah secara langsung (Kompas, 9/2/2004), bukan saja menjadi cermin keyakinan diri berlebihan, melainkan juga merefleksikan keretakan dalam tubuh PDI-P. Satu sayap PDI-P mendorong pembebasan Tandjung agar proses koalisi PDI-P dan Golkar berjalan mulus. Adapun sayap lain membisiki Megawati agar mengambil calon wapres dari tokoh nonpartai. Bila dilihat dari pernyataan Megawati, tampaknya sayap kedua yang untuk sementara memenangkan kompetisi dalam berebut pengaruh di hadapan Mega.

Padahal, sikap Megawati yang demikian dapat menjadi bumerang. Bila dia keras kepala menolak koalisi dengan Golkar dan memilih calon wapres dari unsur nonpartai, seperti Hasyim Muzadi, dia harus siap menghadapi pusaran kompetisi yang tak mudah dijinakkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan dia akan kalah. Golkar yang jengkel pada PDI-P bisa jadi banting stir dan menggabung kekuatan mereka di bawah panji Orde Baru. Mbak Tutut dan purnawirawan militer akan kembali menjadi bagian inti dari Partai Golkar. Langkah ini sekaligus untuk “membayar utang” mereka kepada Pak Harto karena merasa bersalah telah meninggalkan beliau saat tekanan reformasi tak terbendung tahun 1998.

Faktor kedua yang membuka peluang terjadinya dinamika politik nonlinier adalah bila dalam pemilu legislatif 5 April, perolehan suara Golkar mengungguli PDI-P. Unggul satu persen saja akan membuat pimpinan Golkar percaya diri dan itu mempengaruhi secara signifikan sikap mereka. Padahal berdasar hasil polling beberapa lembaga independen (Litbang Kompas, Lembaga Survei Indonesia, dan Soegeng Sarjadi Syndicated), Golkar bisa unggul empat sampai enam persen di atas perolehan PDI-P. Bahkan Golkar bisa membatalkan komitmen untuk berkoalisi dengan PDI-P dan menantang Megawati merebut istana kepresidenan. Langkah ini adalah bagian integral pilihan rasional Golkar untuk kembali berkuasa.

Arus besar

Selain kedua faktor tersebut, manuver Amien Rais juga bisa mendorong terjadinya pergeseran arus besar perjalanan politik nasional. Strategi Amien Rais yang “masuk ke tengah, lalu turun ke bawah dan menyebar” adalah ancaman bagi koalisi PDI-P dan Golkar untuk pemilihan presiden-wakil presiden. Dengan strategi itu, Amien Rais memperluas konsituennya sehingga dia tidak sekadar menjadi tokoh perkotaan, tetapi juga dikenal di lapisan bawah pedesaaan. Naiknya pamor Golkar, yang dipicu kekecewaan wong cilik pada Megawati dan PDI-P, bisa jadi kempes kembali justru karena Golkar berkoalisi dengan PDI-P. Suara-suara kecewa ini mungkin lari ke Amien Rais terlebih jika dia mampu menjadi magnet bagi partai lain yang pesimistis melihat lemahnya tawaran politik yang disodorkan koalisi PDI-P dan Golkar kepada mereka. Bila yang terjadi demikian, Amien Rais akan menjelma menjadi kuda hitam yang membahayakan posisi Megawati

Faktor terakhir yang membuka peluang terjadinya angin politik nonlinier adalah hadirnya kembali Mbak Tutut dan Wiranto dalam percaturan politik nasional. Meski Wiranto bisa dipastikan kalah dalam Konvensi Golkar akibat lolosnya Tandjung dari lubang jarum kasasi, sumber daya politik mantan Panglima TNI ini patut diperhitungkan. Terlepas dari garis kebijakan Mabes TNI yang melarang prajurit untuk memihak secara politik, potensi Wiranto untuk mendapat dukungan para komandan Korem amat tinggi. Hal ini disebabkan banyak dari mereka mendapat promosi jabatan struktural lebih tinggi saat Wiranto menjadi panglima. Dukungan itu tentu bukan dalam bentuk kehadiran fisik di lapangan, melainkan cukup menelepon para pengusaha lokal, misalnya, agar mau membantu kandidat yang mereka dukung.

Sumber daya politik yang dimiliki Wiranto itu akan menjadi kian kuat bila bersinergi dengan Mbak Tutut yang unggul dari segi dana dan komunikasi politik. Mereka bisa menggalang partai-partai yang kecewa terhadap PDI-P dan Golkar serta menyatukan partai-partai kecil yang tidak lolos threshold sehingga mencapai angka kumulatif lima persen dalam pemilu legislatif. Di tengah memori masyarakat yang rindu suasana Orba, peluang Wiranto-Mbak Tutut (siapa pun yang akan nomor satu) tidak bisa diremehkan. Mereka bisa membelah rakyat pendukung PDI-P dan Golkar untuk menjadi barisan pencoblos mereka.

Catatan penutup

Celah-celah politik yang mendorong pergerakan politik menjadi nonlinier itu pada intinya menegaskan, tidak ada posisi yang aman dalam politik. Meski menurut hasil polling tiga lembaga (Litbang Kompas, Lembaga Survei Indonesia, dan Soegeng Sarjadi Syndicated) Megawati ada di puncak klasemen sementara untuk posisi presiden, Amien Rais dan unsur ultra- Orba (Mbak Tutut-Wiranto) sudah membayanginya. Bahkan terbuka kemungkinan untuk muncul ancaman dari Partai Golkar (siapa pun calonnya).

Pendeknya, bila kubu Megawati salah langkah sedikit, mereka akan digulung kekuatan yang sudah menghadang. Garis pergerakan politik memang acapkali nonlinier karena ada peluang di sana. Karena itu, jangan heran bila mulai Oktober nanti, misalnya, foto presiden yang dipasang di dinding-dinding sekolah dan kantor pemerintah bukan foto Megawati yang tersenyum anggun. Jangan-jangan malah fotonya Amien Rais yang cute atau Mbak Tutut yang tersenyum manis!

Sukardi Rinakit Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicated, Jakarta

Artikel ini diambil dari situs Kompas pada alamat:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/25/opini/872401.htm

26/02/2004
24/03/2010

Testing Political Islam’s Economic Advantage: The Case of Indonesia

Oleh Thomas B. Pepinsky, Prof. William Liddle & Dr. Saiful Mujani

02/07/2009

Survei dapatkah dipercaya?

Oleh Burhanuddin Muhtadi

Untuk permintaan wawancara silakan menghubungi sekretariat kami pada alamat di bawah halaman, atau gunakan formulir kontak online.