top of page

Persepsi Publik Terhadap Negara-Negara Paling Berpengaruh di Asia

  • Gambar penulis: Yudha Sugiarto
    Yudha Sugiarto
  • 4 Jan 2021
  • 1 menit membaca

Rilis Survei LSI 12 Januari 2020



Masalah-masalah internasional terutama yang terkait dengan negaranegara besar akhir-akhir ini menonjol dan memperoleh perhatian publik yang luas, baik melalui media massa konvensional maupun melalui media sosial.


Sejumlah masalah yang menonjol itu misalnya soal perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, soal ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, dan yang paling baru adalah soal ketegangan antara Indonesia dan Tiongkok terkait masuknya sejumlah kapal Tiongkok di perairan Natuna milik Indonesia di Laut China Selatan.


(Almond, 1950; Kennan, 1951; Holsti, 1996; Patrick, 2009)

Masalah-masalah internasional dan kebijakan satu negara terhadap negara lainnya sudah lama dikaitkan dengan opini publik suatu negara

Sikap atau kebijakan suatu negara terhadap negara lain atau masalah internasional dapat dipengaruhi oleh opini publik atau sebaliknya kehadiran dan pengaruh suatu negara di negara lain secara ekonomi, politik, dan budaya dapat juga mempengaruhi opini publik di negara yang bersangkutan.


Jadikan Negara Lain Sebagai Reverensi

Seringkali juga, baik pihak pemerintah maupun masyarakat suatu negara menjadikan negara lain sebagai salah satu referensi dalam melakukan dan menilai perkembangan atau arah pembangunan di negara yang bersangkutan.


Dalam berbagai riset opini publik yang dilakukannya, LSI juga secara teratur menanyakan bagaimana sikap atau persepsi publik Indonesia terhadap negara-negara lain, terutama soal negara mana yang dianggap paling berpengaruh di Kawasan Asia.


Dalam melakukan riset ini, LSI bekerjasama dengan Asian-Barometer, suatu jaringan riset opini publik di negara-negara Asia, dimana LSI menjadi salah satu anggotanya.


Survei nasional paling baru tentang masalah ini dilaksanakan pada 10 – 15 Juli 2019.


Untuk membaca laporan lengkap hasil survei ini, silahkan unduh laporan lengkapnya:



9 Komentar


miller.andrew
22 Apr

Di bagian awal soal isu besar yang “menonjol” itu, saya jadi kepikiran betapa cepatnya perhatian publik pindah dari satu krisis ke krisis lain, sementara pemahamannya sering dangkal. Kadang orang cuma pegang satu potongan info lalu jadi sikap permanen. Ini mirip banget dengan cara kita membentuk kesan dari hal visual sehari-hari—bahkan urusan gaya rambut pun, sekali lihat contoh langsung kebawa. Saya pernah nyasar ke https://stylelooklab.com pas lagi cari inspirasi, dan rasanya mekanismenya sama: yang pertama kali muncul sering jadi patokan. Menurut kalian, seberapa besar “first exposure” ini diperhitungkan dalam membaca hasil survei opini publik?

Suka

miller.andrew
22 Apr

Yang saya tangkap, tulisan ini sebenarnya ngomongin “kegagalan” komunikasi antarnegara (atau antar-aktor) yang bisa berubah jadi peluang untuk membentuk opini publik—entah lewat framing media atau pengalaman ekonomi-budaya. Itu agak bikin saya mikir: kalau pemerintah lambat, ruangnya langsung diisi narasi paling keras. Di luar konteks politik, saya pernah lihat hal serupa waktu orang berebut persepsi di konten visual; saya sempat main-main dengan AI image generator tool dan kelihatan banget gimana gambar bisa mengarahkan emosi sebelum orang baca penjelasan. Jadi penasaran, di survei ini ada pertanyaan soal tingkat kepercayaan responden ke sumber berita tertentu nggak?

Suka

miller.andrew
22 Apr

Saya setuju bahwa isu global sekarang gampang “naik kelas” jadi konsumsi publik karena medsos bikin konflik jauh terasa dekat. Tapi yang sering luput: orang menilai negara lain bukan cuma dari kebijakan, tapi dari pengalaman sehari-hari—produk, hiburan, bahkan meme. Itu bikin opini jadi campuran antara realpolitik dan budaya pop. Ngomong-ngomong soal ekosistem AI yang cepat bikin opini juga, hrefgo sempat saya lihat waktu cari daftar alat baru, dan rasanya mirip: yang cepat muncul di depan akhirnya dianggap paling relevan. Di survei ini, ada variabel soal paparan budaya/pop culture asing juga nggak?

Suka

miller.andrew
22 Apr

Menarik ketika tulisan ini menyinggung bahwa kebijakan luar negeri bisa dipengaruhi opini publik, tapi juga bisa sebaliknya—pengaruh ekonomi/budaya dari negara lain pelan-pelan membentuk sikap kita. Di kasus Natuna, saya rasa banyak orang baru “aware” setelah framing berita tertentu muncul. Side note, soal sinkronisasi info lintas zona waktu sering bikin miskom juga, saya pernah cek cepat di check this out waktu atur jadwal diskusi, dan ternyata detail kecil bisa mengubah persepsi kesiapan orang. Kira-kira surveinya menangkap perubahan sikap dari waktu ke waktu (panel) atau cuma potret sekali (cross-section) ya?

Suka

miller.andrew
22 Apr

Bagian tentang bagaimana negara lain jadi “referensi” itu kena banget—kadang kita pakai perbandingan ke negara besar bukan buat belajar, tapi buat membenarkan sikap yang sudah ada. Rasanya mirip saat orang debat di medsos: yang dicari bukan data baru, tapi amunisi. Saya jadi ingat obrolan santai di this site tentang cara orang mengambil keputusan di bawah tekanan, beda topik tapi polanya nyambung. Kalau boleh tanya, LSI di survei ini mengukur sentimen ke negara-negara itu dengan skala apa ya?

Suka
chat (1).png

HUBUNGI KAMI

ingin tahu apa yang dapat kami lakukan untuk anda?

  • Twitter
  • YouTube
  • Facebook

ALAMAT KANTOR

Djayadi Hanan
Eka Novita

Gedung Arva Lt.3. Jalan RP. Soeroso No 40 BC
Menteng – Jakarta Pusat 10350
Kantor : +62 21-829 1641
HP LSI 0822-1010-8014
Email: info@lsi.or.id

© 2020 by Lembaga Survei Indonesia. All rights reserved.

bottom of page